MAKALAH AGAMA ISLAM TENTANG IMAN
A.
Latar Belakang
Kita diciptakan di dunia ini untuk
satu hikmah yang agung dan bukan hanya untuk bersenang-senang dan bermain-main.
Tujuan dan himah penciptaan ini telah dijelaskan dalam firman Allah:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ
لِيَعْبُدُونِ مَآأُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ
إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki
sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan.
Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi
Sangat Kokoh. (QS. 51:56-58)
Allah telah menjelaskan dalam
ayat-ayat ini bahwa tujuan asasi dari penciptaan manusia adalah ibadah
kepadaNya saja tanpa berbuat syirik. Sehingga Allah pun menjelaskan salahnya dugaan
dan keyakinan sekelompok manusia yang belum mengetahui hikmah tersebut dengan
menyakini mereka diciptakan tanpa satu tujuan tertentu dalam firmanNya :
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ
تُرْجَعُونَ
Maka apakah kamu mengira, bahwa
sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu
tidak akan dikembalikan kepada Kami. (QS. 23:115)
Ayat yang mulia ini menjelaskan
bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main saja, namun diciptakan untuk
satu hikmah. Allah tidak menjadikan manusia hanya untuk makan, minum
dan bersenang-senang dengan perhiasan dunia, serta tidak dimintai pertanggung
jawaban atas semua prilakunya di dunia ini. Tentu saja jawabannya adalah kita
semua diciptakan untuk satu himah dan tujuan yang agung dan dibebani perintah
dan larangan, kewajiban dan pengharaman, untuk kemudian dibalas dengan pahala
atas kebaikan dan disiksa atas keburukan (yang dia amalkan) serta (mendapatkan)
syurga atau neraka.
Demikianlah seorang manusia yang ingin
sukses harus dapat bersikap profesional dan proforsonal dalam mencapai tujuan
tersebut, sebab sesungguhnya tujuan akhir seorang manusia adalah mewujudkan
peribadatan kepada Allah dengan iman dan taqwa. Oleh karena itu orang yang
paling sukses dan paling mulia disisi Allah adalah yang paling taqwa,
sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:
Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara
kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)
Namun untuk
mencapai kemulian tersebut membutuhkan dua hal :
a)
I’tishom bihablillah. Hal ini
dengan komitmen terhadap syariat Allah dan berusaha merealisasikannya dalam
semua sisi kehidupan kita. Sehingga dengan ini kita selamat dari kesesatan.
Namun hal inipun tidak cukup tanpa perkara yang berikutnya, yaitu;
b)
I’tishom billah. Hal ini
diwujudkan dalam tawakal dan berserah diri serta memohon pertolongan kepada
Allah dari seluruh rintangan dan halangan mewujudkan yang pertama tersebut.
Sehingga dengannya kita selamat dari rintangan mengamalkannya.
Sebab
seorang bila ingin mencapai satu tujuan tertentu, pasti membutuhkan dua hal,
pertama, pengetahuan tentang tujuan tersebut dan bagaimana cara mencapainya dan
kedua, selamat dari rintangan yang menghalangi terwujudnya tujuan tersebut.
Imam Ibnu Al
Qayyim menyatakan: Poros kebahagian duniawi dan ukhrowi ada pada I’tishom
billahi dan I’tishom bihablillah dan tidak ada kesuksesan kecuali bagi orang
yang komitmen dengan dua hal ini. Sedangkan I’tishom bi hablillah melindungi
seseorang dari kesesatan dan I’tishom billahi melindungi seseorang dari
kehancuran. Sebab orang yang berjalan mencapai (keridhoan) Allah seperti
seorang yang berjalan diatas satu jalanan menuju tujuannya. Ia pasti
membutuhkan petunjuk jalan dan selamat dalam perjalanan, sehingga tidak
mencapai tujuan tersebut kecuali setelah memiliki dua hal ini.
Dalil
(petunjuk) menjadi penjamin perlindungan dari kesesatan dan menunjukinya
kejalan (yang benar) dan persiapan, kekuatan dan senjata menjadi alat
keselamatan dari para perampok dan halangan perjalanan. I’tishom bi hablillah
memberikan hidayah petunjuk dan mengikuti dalil sedang I’tishom billah
memberikan kesiapan, kekuatan dan senjata yang menjadi penyebab keselamatannya
di perjalanan.
Oleh karena
itu hendaknya kita menekuni bidang kita masing-masing sehingga menjadi ahlinya
tanpa meninggalkan upaya mengenal, mengetahui dan mengamalkan ajaran islam yang
merupakan satu kewajiban pokok setiap muslim. Agar dapat mencapai tujuan
penciptaan tersebut dengan menjadikan keahlian dan kemampuan kita sebagai
sarana ibadah dan peningkatan iman dan takwa kita semua.
Tentu saja
hal ini menuntut kita untuk dapat mengambil faedah dan pengetahuan tantang
syariat sebagai wujud syukur kita atas nikmat yang Allah anugerahkan. Semua itu
agar mereka mengakui bahwa mereka adalah makhluk yang tunduk dan diatur dan
mereka memiliki Rabb yang maha pencipta dan maha mengatur mereka.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan apa yang dikemukakan
dalam latar belakang maka penulis menarik suatu rumusan masalah sebagai berikut
:
1.
Apa masalah-masalah manusia
dalam kehidupan modern berdasarkan pandangan Islam ?
2.
Bagaimanakah peran iman
dan takwa dalam menjawab masalah dan
tantangan kehidupan modern ?
C.
Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah
ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui apa yang menjadi dasar dari pengimplementasian
iman dan takwa dalam kehidupan modern dan era globalisasi sekarang.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Iman
Iman menurut bahasa adalah percaya atau yakin, keimanan berarti
kepercayaan atau keyakinan. Dengan demikian, rukun iman adalah dasar, inti,
atau pokok – pokok kepercayaan yang harus diyakini oleh setiap pemeluk
agama Islam.
Kata iman juga berasal dari
kata kerja amina-yu’manu – amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu iman
berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati.
Dalam surat al-Baqarah 165,
dikatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang amat sangat cinta kepada
Allah (asyaddu hubban lillah). Oleh karena itu, beriman kepada Allah
berarti sangat rindu terhadap ajaran Allah. Oleh karena iu beriman kepada Allah
berarti amat sangat terhadap ajaran Allah yaitu Al-Quran dan sunnah rasul.
Dalam hadist yang
diriwayatkan oleh Ibnu Majah Atthabrani, iman didefinisikan dengan keyakinan
dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan (al-Imaanu
‘aqdun bil qalbi waiqraarun billisaani wa’amalun bil arkaan)
Istilah iman dalam al-qur’an
selalu dirangkaikan dengan kata lain yang memberikan corak dan warna tentanhg
suatu yang diimani, seperti dalam surat an-Nisa’: 51 yang dikaitkan dengan
jibti (kebatinan/Idealisme) dan thaghut (realita/nasionalisme). Sedangkan dalam
surat al-Ankabut: 52 dikaitkan dengan kata bathil, yaitu wallaziina
aamanuu bil baathili. Bathil berarti tidak benar menurut
Allah.Sementara dalam surat al-Baqarah: 4 iman dirangkaikan dengan kata ajaran
yang diturunkan oleh Allah.
Dengan demikian, kata iman
yang tidak dikaitkan dengan kata Allah atau ajaran nya, dikatakan sebagai iman
haq, sedangkan yang dikaitkan dengan selainnya dinamakan iman bathil.
Keimanan adalah perbuatan yang
bila diibaratkan pohon, mempunyai pokok dan cabang. Bukankah sering kita baca
atau dengar sabda Rasullah saw. Yang kita jadikan kata-kata mutiara, misalnya
malu adalah sebagian dari iman, kebersihan sebagian dari iman, cinta bangsa dan
Negara sebagian dari iman, bersikap ramah sebagian dari iman, menyingkirkan
duri atau yang lainnya yang dapat membuat orang sengsara dan menderita, itu
juga sebagian dari iman. Diantara cabang - cabang keimanan yang paling pokok
adalah keimanan kepada Allah SWT.
1)
Wujud Iman
Iman bukan hanya berarti
percaya, melainkan keyakinan yang mendorong seorang muslim berbuat amal soleh.
Seseorang dinyatakan beriman bukan hanya percaya terhadap sesuatu, melainkan
mendorongnya untuk mengucapkan dan melakukan sesuatu sesuai keyakinannya.
Akidah Islam adalah bagian
yang paling pokok dalam agama Islam. Seseorang dipandang muslim atau bukan
muslim tergantung pada akidahnya. Apabila ia berakidah muslim maka segala
sesuatu yang dilakukannya akan bernilai sebagai amal saleh. Apabila tidak
berakidah, maka segala perbuatannya dan amalnya tidak mengandung arti apa-apa.
Oleh karena itu, menjadi
seorang muslim berarti meyakini dan menjalankan segala sesuatu yang diajarkan
dalam ajaran Islam.
2)
Proses Terbentuknya Iman
Benih iman yang dibawa sejak
dalam kandungan memerlukan pembinaan yang bekesinambungan. Pengaruh pedidikan
keluarga secara langsung maupun tidak langsung sangat berpengaruh terhadap iman
seseorang.
Pada dasarnya, proses pembentukan iman diawali dengan proses perkenalan.
Megenal ajaran Allah harus dilakukan sedini mungkin sesuai dengan kemampuan
anak itu. Disamping pengenalan, proses pembiasaan juga perlu diperhatikan,
seorang anak harus dibiasakan dari kecil untuk mengenal dan melaksanakan ajaran
Allah, agar kelak dapat melaksanakan ajaran -ajaran Allah.
3)
Tanda-tanda Orang Beriman
Al-qur’an menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:
1. Jika disebut nama Allah, hatinya akan bergetar dan berusaha ilmu Allah
tidak lepas dari syaraf memorinya (al-anfal : 2)
2. Senantiasa tawakal, yaitu bekeja keras berdasarkan kerangka ilmu
Allah. (Ali imran : 120, Al maidah: 12, al-anfal : 2, at-taubah: 52,
Ibrahim:11)
3. Te rtib dalam melaksanakan shalat dan selalu melaksanakn
perintah-Nya. (al-anfal: 3, Al-mu’minun: 2, 7)
4. Menafkahkan rizki yang diterima dijalan Allah. (al-anfal: 3,
Al-mukminun: 2, 7)
5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan. (Al-mukminun:
3, 5)
6. Memelihara amanah dan menepati janji. (Al-mukminun: 6)
7. Berjihad di jalan Allah dan Suka menolong. (al-Anfal : 74)
8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin. (an-nur: 62)
B. Pengertian Taqwa
Taqwa berasal dari kata waqa,
yaqi , wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara dan melindungi.Sesuai
dengan makna etimologis tersebut, maka taqwa dapat diartikan sikap
memelihara keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara
utuh dan konsisten ( istiqomah ).
Karakteristik
orang – orang yang bertaqwa, secara umum dapat dikelompokkan kedalam lima
kategori atau indicator ketaqwaan.
a. Iman kepada Allah, para malaikat, kitab – kitab dan para nabi. Dengan kata
lain, instrument ketaqwaan yang pertama ini dapat dikatakan dengan memelihara
fitrah iman.
b. Mengeluarkan harta yang dikasihnya kepada kerabat, anak yatim, orang –
orang miskin, orang – orang yang terputus di perjalanan, orang – orang yang
meminta – minta dana, orang – orang yang tidak memiliki kemampuan untuk
memenuhi kewajiban memerdekakan hamba sahaya. Indikator taqwa yang kedua ini,
dapat disingkat dengan mencintai sesama umat manusia yang diwujudkan melalui
kesanggupan mengorbankan harta.
c. Mendirikan solat dan menunaikan zakat, atau dengan kata lain, memelihara
ibadah formal.
d. Menepati janji, yang dalam pengertian lain adalah memelihara kehormatan
diri.
e. Sabar disaat kepayahan, kesusahan dan diwaktu perang, atau dengan kata lain
memiliki semangat perjuangan.
C. Implementasi Iman Dan Taqwa
1.
Pemantapan Iman dan Taqwa
Masa depan ditentukan oleh umat yang
memiliki kekuatan budaya yang dominan. Generasi pelopor penyumbang dibidang
pemikiran (aqliyah), dan pembaruan (inovator), perlu dibentuk di era
pembangunan.
Keunggulan generasi pelopor akan di
ukur ditengah masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman (identifikasi)
permasalahan yang dihadapi umat, denganequalisasi mengarah
kepada kaderisasi (patah tumbuh hilang berganti). Keunggulan
ini di iringi dengan kemampuan penswadayaan kesempatan-kesempatan. Pentingnya
menumbuhkan generasi pelopor menjadi relevansi tuntutan agama
dalam menatap kedepan.
Mantapnya
pemahaman agama dan adat budaya (tamaddun) dalam perilaku
seharian jadi landasan dasar kaderisasi re-generasi. Usaha kearah
pemantapan metodologi pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan,
pembinaan keluarga, institusi serta lingkungan mesti sejalin dan
sejalan dengan pemantapan Akidah Agama pada generasi mendatang. Political action berkenaan pengamalan ajaran Agama
menjadi sumber kekuatan besar menopang proses pembangunan
melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek dalam
pembangunan bangsa itu sendiri.
2.
Melemahnya Jati Diri
Kelemahan mendasar ditengah
perkembangan zaman adalah melemahnya jati diri, dan kurangnya
komitmen kepada nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa.Isolasi
diri karena tidak berkemampuan menguasai “bahasa dunia” (politik, ekonomi,
sosial, budaya, iptek), berujung dengan hilangnya percaya
diri. Kurangnya kemampuan dalam penguasaan teknologi dasar yang
akan menopang perekonomian bangsa, dipertajam oleh kurangnya minat menuntut
ilmu, menjadikan isolasi diri masyarakat bertambah tertutup. Kondisi ini akan
menjauhkan peran serta di era-kesejagatan(globalisasi), dan
akhirnya membuka peluang menjadi anak jajahan di negeri sendiri.
Sosialisasi pembinaan jati diri
bangsa mesti disejalankan dengan pengokohan lembaga keluarga (extended family),
dan peran serta masyarakat pro aktif menjaga kelestarian adat budaya
(hidup beradat, di masyarakat Minangkabau adat bersendikan syarak, syarak
bersendikan Kitabullah). Setiap generasi yang di lahirkan dalam satu
rumpun bangsa wajar tumbuh menjadi kekuatan yang peduli dan pro-aktif menopang
pembangunan bangsa.
Melibatkan generasi muda secara
aktif menguatkan jalinan hubungan timbal balik antara masyarakat serumpun
di desa dalam tata kehidupan sehari-hari. Aktifitas ini mendorong
lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab, di samping
antisipasi lahirnya generasi lemah.
3.
Arus Globalisasi
Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium
ketiga, abad dua puluh satu ditemui lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dengan pesat. Globalisasi sebenarnya dapat diartikan
sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal),
baik dalam lingkup maupun aplikasinya. Era globalisasi adalah era
perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit seakan tanpa batas.
Hubungan komunikasi,
informasi, transportasi menjadikan jarak satu sama lain menjadi dekat, sebagai
akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Arus globalisasi juga menggeser pola hidup masyarakat dari agraris
dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.
Arus kesejagatan (globalisasi) secara
dinamik memerlukan penyesuaian kadar agar arus kesejagatan tidak mecabut
generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya arus kesejagatan mesti di
rancang bisa merobah apa yang tidak dikehendaki.
Membiarkan diri terbawa arus
deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akan
menyisakan malapetaka. Globalisasi menyisakan banyak tantangan (sosial, budaya,
ekonomi, politik, tatanan, sistim, perebutan kesempatan menyangkut banyak aspek
kehidupan kemanusiaan.
Globalisasi juga menjanjikan
harapan dan kemajuan. Setiap Muslim harus‘arif dalam menangkap setiap
pergeseran dan tanda-tanda perubahan zaman. Kejelian dalam menangkap ruh
zaman (zeitgeist) mampu men- jaring peluang‑peluang yang ada, sehingga
memiliki visi jauh ke depan. Diantara yang menjanjikan itu adalah
pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pesatnya pertumbuhan ekonomi menjadi alat untuk
menciptakan kemakmuran masyarakat.
4.
Paradigma Tauhid
Paradigma tauhid, laa ilaaha
illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid, hamba yang mengabdi
kepada Allah dalam arti luas, berkemampuan melaksanakan
ajaran syar’iy mengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, untuk
menjadi manusia mandiri (self help), sesuai dengan eksistensi manusia itu di jadikan.
Manusia pengabdi (‘abid) adalah
manusia yang tumbuh dengan Akidah Islamiah yang kokoh. Akidah
Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, dan titik dasar
paling awal untuk menjadikan seorang muslim.
Akidah
adalah keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing dengan kebimbangan, membentuk
manusia dengan watak patuh dan ketaatan yang menjadi bukti penyerahan
total kepada Allah. Akidah menuntun hati manusia kepada pembenaran
kekuasaan Allah secara absolut. Tuntunan Akidah membimbing hati manusia
merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul
Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.
Apabila Akidah tauhid telah hilang,
dapat dipastikan akan lahir prilakufatalistis dengan hanya menyerah kepada
nasib sambil bersikap apatis dan pesimis. Sikap negatif ini
adalah virus berbahaya bagi individu pelopor penggerak pembangunan. Keyakinan
tauhid secara hakiki menyimpan kekuatan besar berbentuk energi
ruhaniahyang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.
D.
Problematika, Tantangan dan Resiko
Dalam Kehidupan Modern
Problem-problem manusia dalam
kehidupan modern adalah munculnya dampak negatif (residu), mulai dari berbagai
penemuan teknologi yang berdampak terjadinya pencemaran lingkungan, rusaknya
habitat hewan maupun tumbuhan, munculnya beberapa penyakit, sehingga belum lagi
dalam peningkatan yang makro yaitu berlobangnya lapisan ozon dan penasan global
akibat akibat rumah kaca.
Aktualisasi taqwa adalah bagian dari
sikap bertaqwa seseorang. Karena begitu pentingnya taqwa yang harus dimiliki
oleh setiap mukmin dalam kehidupan dunia ini sehingga beberapa syariat islam
yang diantaranya puasa adalah sebagai wujud pembentukan diri seorang muslim
supaya menjadi orang yang bertaqwa, dan lebih sering lagi setiap khatib pada hari
jum’at atau shalat hari raya selalu menganjurkan jamaah untuk selalu bertaqwa.
Begitu seringnya sosialisasi taqwa dalam kehidupan beragama membuktikan bahwa
taqwa adalah hasil utama yang diharapkan dari tujuan hidup manusia (ibadah).
Taqwa adalah satu hal yang sangat
penting dan harus dimiliki setiap muslim. Signifikansi taqwa bagi
umat islam diantaranya adalah sebagai spesifikasi pembeda dengan
umat lain bahkan dengan jin dan hewan, karena taqwa adalah refleksi
iman seorang muslim. Seorang muslim yang beriman tidak ubahnya seperti
binatang, jin dan iblis jika tidak mangimplementasikan keimanannya dengan sikap
taqwa, karena binatang, jin dan iblis mereka semuanya dalam arti sederhana
beriman kepada Allah yang menciptakannya, karena arti iman itu sendiri secara
sederhana adalah “percaya”, maka taqwa adalah satu-satunya sikap pembeda antara
manusia dengan makhluk lainnya. Seorang muslim yang beriman dan sudah
mengucapkan dua kalimat syahadat akan tetapi tidak merealisasikan keimanannya
dengan bertaqwa dalam arti menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi
segala laranganNya, dan dia juga tidak mau terikat dengan segala aturan
agamanya dikarenakan kesibukannya atau asumsi pribadinya yang mengaggap
eksistensi syariat agama sebagai pembatasan berkehendak yang itu adalah hak
asasi manusia, kendatipun dia beragama akan tetapi agamanya itu hanya sebagai
identitas pelengkap dalam kehidupan sosialnya, maka orang semacam ini tidak
sama dengan binatang akan tetapi kedudukannya lebih rendah dari binatang,
karena manusia dibekali akal yang dengan akal tersebut manusia dapat melakukan
analisis hidup, sehingga pada akhirnya menjadikan taqwa sebagai wujud
implementasi dari keimanannya.
Taqwa adalah sikap abstrak yang
tertanam dalam hati setiap muslim, yang aplikasinya berhubungan dengan syariat
agama dan kehidupan sosial. Seorang muslim yang bertaqwa pasti selalu berusaha
melaksanakan perintah Tuhannya dan menjauhi segala laranganNya dalam kehidupan
ini. Yang menjadi permasalahan sekarang adalah bahwa umat islam berada dalam
kehidupan modern yang serba mudah, serba bisa bahkan cenderung serba boleh.
Setiap detik dalam kehidupan umat islam selalu berhadapan dengan hal-hal yang
dilarang agamanya akan tetapi sangat menarik naluri kemanusiaanya, ditambah
lagi kondisi religius yang kurang mendukung. Keadaan seperti ini sangat berbeda
dengan kondisi umat islam terdahulu yang kental dalam kehidupan beragama dan
situasi zaman pada waktu itu yang cukup mendukung kualitas iman seseorang.
Adanya kematian sebagai sesuatu yang
pasti dan tidak dapat dikira-kirakan serta adanya kehidupan setelah kematian
menjadikan taqwa sebagai obyek vital yang harus digapai dalam kehidupan manusia
yang sangat singkat ini. Memulai untuk bertaqwa adalah dengan mulai melakukan
hal-hal yang terkecil seperti menjaga pandangan, serta melatih diri untuk
terbiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya, karena
arti taqwa itu sendiri sebagaimana dikatakan oleh Imam Jalaluddin
Al-Mahally dalam tafsirnya bahwa arti taqwa adalah “imtitsalu awamrillahi
wajtinabinnawahih”, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala
laranganya.
Beberapa problem yang sering
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:
a)
Problem dalam Hal Ekonomi
Semakin lama manusia semakin
menganggap bahwa dirinya merupakan homo economicus, yaitu merupakan makhluk
yang memenuhi kebutuhan hidupnya dan melupakan dirinya sebagai homo religious
yang erat dengan kaidah – kaidah moral. Ekonomi kapitalisme materialisme yang
menyatakan bahwa berkorban sekecil – kecilnya dengan menghasilkan keuntungan
yang sebesar – besarnya telah membuat manusia menjadi makhluk konsumtif yang
egois dan serakah.
b)
Problem dalam Bidang Moral
Pada hakikatnya Globalisasi adalah
sama halnya dengan Westernisasi. Ini tidak lain hanyalah kata lain dari penanaman
nilai – nilai Barat yang menginginkan lepasnya ikatan – ikatan nilai moralitas
agama yang menyebabkan manusia Indonesia pada khususnya selalu “berkiblat”
kepada dunia Barat dan menjadikannya sebagai suatu symbol dan tolok ukur suatu
kemajuan.
c)
Problem dalam Bidang Agama
Tantangan agama dalam kehidupan
modern ini lebih dihadapkan kepada faham Sekulerisme yang menyatakan bahwa
urusan dunia hendaknya dipisahkan dari urusan agama. Hal yang demikian akan
menimbulkan apa yang disebut dengan split personality di mana seseorang bisa
berkepribadian ganda. Misal pada saat yang sama seorang yang rajin beribadah
juga bisa menjadi seorang koruptor.
d)
Problem dalam Bidang Keilmuan
Masalah yang paling kritis dalam
bidang keilmuan adalah pada corak kepemikirannya yang pada kehidupan modern ini
adalah menganut faham positivisme dimana tolok ukur kebenaran yang rasional,
empiris, eksperimental, dan terukur lebih ditekankan. Dengan kata lain sesuatu
dikatakan benar apabila telah memenuhi criteria ini. Tentu apabila direnungkan
kembali hal ini tidak seluruhnya dapat digunakan untuk menguji kebenaran agama
yang kadang kala kita harus menerima kebenarannya dengan menggunakan keimanan
yang tidak begitu poluler di kalangan ilmuwan – ilmuwan karena keterbatasan
rasio manusia dalam memahaminya.
Perbedaan metodologi yang lain bahwa
dalam keilmuan dikenal istilah falsifikasi. Artinya setiap saat kebenaran yang
sudah diterima dapat gugur ketika ada penemuan baru yang lebih akurat. Sangat
jauh dan bertolak belakang dengan bidang keagamaan.Jika anda tidak salah lihat,
maka akan banyak anda temukan banyak ilmuwan yang telah menganut faham atheis
(tidak percaya adanya tuhan) akibat dari masalah – masalah dalam bidang
keilmuan yang telah tersebut di atas.
Pengaruh Modernisasi dalam Kehidupan
Islam
Dalam abad teknologi ultra moderen
sekarang ini, manusia telah diruntuhkan eksistensinya sampai ketingkat mesin
akibat pengaruh morenisasi. Roh dan kemuliaan manusia telah diremehkan begitu
rendah. Manusia adalah mesin yang dikendalikan oleh kepentingan financial untuk
menuruti arus hidup yang materialistis dan sekuler. Martabat manusia
berangsur-angsur telah dihancurkan dan kedudukannya benar-benar telah
direndahkan. Modernisai adalah merupakan gerakan yang telah dan sedang
dilakukan oleh Negara-negara Barat Sekuler untuk secara sadar atau tidak, akan
menggiring kita pada kehancuran peradaban. Tak sedikit dari orang-orang Islam
yang secara perlahan-lahan menjadi lupa akan tujuan hidupnya, yang semestinya
untuk ibadah, berbalik menjadi malas ibadah dan lupa akan Tuhan yang telah
memberikannya kehidupan. Akibat pengaruh modernisasi dan globalisasi banyak
manusia khususnya umat Islam yang lupa bahwa sesungguhnya ia diciptakan
bukanlah sekedar ada, namun ada tujuan mulia yaitu untuk beribadah kepada Allah
SWT.
Kondisi diatas meluaskan segala hal
dalam aspek kehidupan manusia. Sehingga tidak mengherankan ketika batas-batas
moral, etika dan nilai-nilai tradisional juga terlampaui. Modernisasi yang
berladangkan diatas sosial kemasyarakatan ini juga tidak bisa mengelak dari
pergeseran negatif akibat modernisasi itu sendiri. Peningkatan intensitas dan
kapasitan kehidupan serta peradaban manusia dengan berbagai turunannya itu juga
meningkatan konstelasi sosial kemasyarakatan baik pada level individu ataupun
level kolektif. Moralitas, etika dan nilai-nilai terkocok ulang menuju
keseimbangan baru searah dengan laju modernisasi. Pegerakan ini tentu saja
mengguncang perspektif individu dan kolektif dalam tatanan kemasyarakatan yang
telaha ada selama ini.
Perubahan kepercayaan,
pemikiran, kebudayaan, dan peradaban merupakan prasyarat bagi perubahan
ekonomi, politik, dan sebagainya. Itulah sebabnya, ketika masyarakat modern tak
dapat mengakomodasikan apa yang tersedia di lingkungannya, mereka memilih
alternatif atau model dari negara imperialis yang menjadi pusat-pusat kekuatan
dunia. Secara politis, mereka berlindung pada negara-negara tersebut.
Terbukalah kemungkinan konfrontasi antara kekuatan eksternal dengan kekuatan
internal (kekuatan Islam) bila Islam hendak ditampilkan sebagai kekuatan nyata.
Morernisasi bagi umat Islam tidak perlu diributkan, diterima ataupun ditolak,
namun yang paling penting dari semua adalah seberapa besar peran Islam dalam
menata umat manusia menuju tatanan dunia baru yang lebih maju dan beradab.
Bagi kita semua, ada atau tidaknya istilah modernisasi dan globalisasi tidak
menjadi masalah, yang penting ajaran Islam sudah benar-benar diterima secara
global, secara mendunia oleh segenap umat manusia, diterapkan dalam kehidupan
masing-masing pribadi, dalam berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
Sebagai umat Islam hendaknya nilai
modern jangan kita ukur dari modernnya pakaiannya, perhiasan dan
penampilan. Namun modern bagi umat Islam adalah modern dari segi pemikiran,
tingkah laku, pergaulan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial budaya,
politik dan keamanan yang dijiwai akhlakul karimah, dan disertai terwujudnya
masyarakat yang adil, makmur, sejahtera dalam naungan ridha Allah SWT.
E. Peran Iman dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan Modern
Pengaruh iman terhadap
kehidupan manusia sangat besar. Berikut ini dikemukakan beberapa pokok manfaat
dan pengaruh iman pada kehidupan manusia:
a.
Iman melenyapkan kepercayaan
pada kekuasaan benda
Orang yang beriman hanya
percaya pada kekuatan dan kekuasaan Allah. Kalau Allah hendak memberikan
pertolongan, maka tidak ada satu kekuatanpun yang dapat mencegahnya.
Sebaliknya,jika Allah hendak menimpakan bencana, maka tidak ada satu
kekuatanpun yang sanggup menahan dan mencegahnya. Kepercayaan dan keyakinan
demikian menghilangkan sifat mendewa-dewakan manusia yang kebetulan sedang
memegang kekuasaan, menghilangkan kepercayaan pada kesaktian benda-benda
keramat, mengikis kepercayaan pada khufarat, takhyul, jampi-jampi dan
sebagainya. Pegangan orang yang beriman adalah firman Allah surat Al Fatihah
ayat 1-7
b.
Iman menanamkan semangat
berani menghadapi maut
Takut menghadapi maut
menyebabkan manusia menjadi pengecut. Banyak diantara manusia yang tidak berani
mengemukakan kebenaran, karena takut menghadapi resiko. Orang yang beriman
yakin sepenuhnya bahwa kematian di tangan Allah. Pegangan orang beriman
mengenai soal hidup dan mati adalah firman Allah:
Dimana saja kamu berada,
kematian akan datang mendapatkan kamu kendatipun kamu di benteng yang tinggi
lagi kokoh.( An Nisa 4: 78)
c.
Iman menanamkan sikap self
help dalam kehidupan
Rezeki memegang peranan
penting dalam kehidupan manusia. Banyak orang yang melepaskan pendirian bahkan
tidak segan-segan melepaskan prinsip,menjual kehormatan,bermuka dua,menjilat
dan memperbudak diri karena kepentingan materi. Pegangan orang beriman dalam
hal ini adalah firman Allah:
Dan tidak ada satu binatang
melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui
tempat berdiam binatang dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam
kitab yang nyata (lauhul mahfud) (Hud,
11:6)
d.
Iman memberikan kententraman
jiwa
Acapkali manusia dilanda resah
dan duka cita, serta digoncang oleh keraguan dan kebimbangan. Orang yang
beriman mempunyai keseimbangan , hatinya tentram(mutmainah), dan jiwanya
tenang(sakinah), seperti dijelaskan firman Allah:
…..(yaitu) orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tentram (Ar-Ra’d,13:28)
e.
Iman mewujudkan kehidupan yang
baik (hayatan tayyibah)
Kehidupan manusia yang baik
adalah kehidupan orang yang selalu melakukan kebaikan dan mengerjakan perbuatan
yang baik. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah :
Barang siapa yang mengerjakan
amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka
sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya
akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahal yang lebih baik dari apa yang
mereka kerjakan. (An Nahl, 16:97)
f.
Iman melahirkan sikap ikhlas
dan konsekuen
Iman memberi pengaruh pada
seseorang untuk selalu berbuat ikhlas, tanpa pamrih , kecuali keridaan Allah.
Orang yang beriman senantiasa konsekuen dengan apa yang telah diikrarkannya,
baik dengan lidahnya maupun dengan hatinya. Ia senantiasa berfirman pada firman
Allah:
Katakanlah : Sesungguhnya
shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta
alam. (Al-An’aam, 6:162)
g.
Iman memberikan keberuntungan
Orang yang beriman selalu
berjalan pada arah yang benar karena Allah membimbing dan mengarahkan pada
tujuan hidup yang hakiki. Dengan demikian orang yang beriman adalah orang yang
beruntung dalam hidupnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
Mereka itulah yang tetap
mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (Al-Baqarah, 2:5)
h.
Iman mencegah penyakit
Ahlak, tingkah laku, perbuatan
fisik seorang mukmin, atau fungsi biologis tubuh manusia mukmin dipengaruhi
oleh iman.
Jika seseorang jauh dari
prinsip-prinsip iman, tidak mengacuhkan azas moral dan ahlak, merobek-robek
nilai kemanusiaan dalam setiap perbuatannya, tidak pernah ingat kepada Allah,
maka orang yang seperti ini hidupnya akan dikuasai oleh kepanikan dan
ketakutan.
Hal itu akan menyebabkan
tingginya hormon adrenalin dan persenyawaan kimia lainnya. Selanjutnya akan
menimbulkan pengaruh yang negatif terhadap biologi tubuh serta lapisan otak
bagian atas. Hilangnya keseimbangan hormon dan kimiawi akan mengakibatkan terganggunya
kelancaran proses metabolisme zat dalam tubuh manusia. Pada waktu itulah
timbullah gejala penyakit, rasa sedih, dan ketegangan psikologis, serta
hidupnya selalu dibayangi oleh kematian.
Demikianlah pengaruh dan
manfaat iman pada kehidupan manusia, ia bukan hanya sekedar kepercayaan yang
berada dalam hati, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong dan membentuk sikap
perilaku hidup. Apabila suatu masyarakat terdiri dari orang-orang yang beriman,
maka akan terbentuk masyarakat yang aman, tentram, damai, dan sejahtera
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Iman menurut bahasa adalah
percaya atau yakin, keimanan berarti kepercayaan atau keyakinan. Dengan
demikian, rukun iman adalah dasar, inti, atau pokok – pokok kepercayaan yang
harus diyakini oleh setiap pemeluk agama Islam.
Kata iman juga berasal dari
kata kerja amina-yu’manu – amanan yang berarti percaya. Oleh karena itu iman
berarti percaya menunjuk sikap batin yang terletak dalam hati.
Taqwa berasal dari kata waqa,
yaqi , wiqayah, yang berarti takut, menjaga, memelihara dan melindungi.Sesuai
dengan makna etimologis tersebut, maka taqwa dapat diartikan sikap memelihara
keimanan yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh dan
konsisten ( istiqomah ).
Mantapnya pemahaman agama dan adat budaya
(tamaddun) dalam perilaku seharian jadi landasan dasar
kaderisasi re-generasi. Usaha kearah pemantapan metodologi
pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan, pembinaan keluarga,
institusi serta lingkungan mesti sejalin dan sejalan dengan
pemantapan Akidah Agama pada generasi mendatang.
Political action berkenaan
pengamalan ajaran Agama menjadi sumber kekuatan besar menopang proses
pembangunan melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek
dalam pembangunan bangsa itu sendiri.
Pemberdayaan lembaga adat, agama,
perguruan tinggi, untuk meraih keberhasilan, mesti sejalan dengan
kelompok umara’ yang adil (kena pada tempatnya). Pertemuan
pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, penekanan amanah kepada
pemegang kendali ekonomi, menyatukan gerak masyarakat disertai do’a (harapan)
sebagai perpaduan usaha, menjadi pekerjaan mendesak meniti pengembangan
pembangunan (development). Peran da’i ilaa Allah aktif
menyokong mempertahankan nilai-nilai ruhaniyah sebagai modal dalam menghasilkan
yang belum dimiliki. Generasi pelopor (inovator) pembangunan harus dipersiapkan
supaya tidak lahir generasi pengguna(konsumptif) yang tidak
produktif, yang merupakan benalu bagi bangsa dan negara.
Melibatkan generasi muda secara
aktif menguatkan jalinan hubungan timbal balik antara masyarakat
serumpun di desa dalam tata kehidupan sehari-hari. Aktifitas ini
mendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab,
di samping antisipasi lahirnya generasi lemah.
B. Saran
Permasalahan-permasalahan yang
ada di era globalisasi sekarang yang banyak menyimpang dari aturan agama
khususnya di Indonesia sangat miris sekali. Yang
diperlukan sekarang adalah generasi
muda yang handal, dengan daya kreatif, innovatif, kritis, dinamis, tidak
mudah terbawa arus, memahami nilai‑nilai budaya luhur, siap bersaing dalam
knowledge based society, punya jati diri yang jelas, memahami dan mengamalkan
nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual. Kekuatan yang
memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material,
tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Komentar